Mengenali Kondisi
Gawat Darurat
Untuk menilai
kondisi gawat darurat anak terdapat cara cepat yang disebut penilaian SAGA (Segitiga Asesmen
Gawat Anak)
Jika anak
mengalami gejala gejala diatas, segera bawa anak ke IGD.
Langkah
Pertama yang Bisa Dilakukan di Rumah
Untuk kondisi
non-gawat atau penanganan awal sebelum ke rumah sakit, berikut beberapa tips
yang dapat dilakukan jika anak sakit :
1.
Demam
·
Berikan cairan cukup (ASI untuk bayi, air untuk
anak besar).
·
Berikan obat penurun panas (paracetamol)
·
Jika suhu anak 38,5 – 40 celcius, anak bisa di bantu
kompres hangat di dahi, leher dan ketiak. Selalu ganti kain sebelum kering atau
dingin.
2.
Kejang
·
Tetap tenang, jangan memasukkan apapun ke mulut
anak.
·
Posisikan anak miring agar jalan napas terbuka dan
muntah tidak tertelan.
·
Jika punya obat anti-kejang, masukkan sesuai dosis
anjuran dokter sebelumnya.
·
Segera bawa ke IGD, jika kejang pertama kali.
3.
Diare
·
Utamakan pemberian ASI untuk bayi,
·
Berikan oralit untuk anak yang lebih besar. Satu saset
dilarutkan dalam 200 cc air, diberikan anak saat diare atau muntah
·
Hindari pemberian obat “anti diare” yang tidak
diresepkan dokter.
4.
Mimisan
·
Tenangkan anak dan diri sendiri.
·
Dudukkan anak dengan posisi condong ke depan.
·
Tekan pangkal hidung 15–20 menit.
·
Jika tidak berhenti >20 menit, segera ke IGD.
Mengenali
kegawatdaruratan pada anak penting untuk menentukan tindakan cepat dan tepat. Dengan
pemahaman ini, orang tua tidak hanya menjadi dokter pertama bagi anak, tapi
juga penentu keselamatan mereka. Menyelamatkan satu nyawa berarti menyelamatkan
satu generasi.
Lengkapi
kebutuhan kesehatan Anda dengan layanan dokter terbaik kami.
dr. Yudha Fadhol Arafah Yasrizal,
M.Sc., Sp.A (Dokter Spesialis Anak)
Senin – Kamis : 08.00 – 10.00 & 16.00
– 17.00
Jum’at : 08.00 – 10.00
Informasi
selengkapnya mengenai RS Harapan Bunda, Anda dapat menghubungi :
Call Center :
08001503363
Whatsapp :
085381338887
Telegram : @rshblampung_bot
Facebook Messenger : @rshblamteng
Chat Web :
rshb-lampung.co.id
Booking Online : Aplikasi Harbun-Q
Tertelan duri ikan atau yang sering disebut “ketulangan” adalah salah satu kasus yang cukup sering ditemui di praktek dokter THT, baik di IGD maupun poliklinik. Meski terlihat sepele, kondisi ini bisa menjadi masalah serius jika tidak ditangani dengan benar. Yuk, kita bahas lebih lengkap.
BacaStroke bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik pasien, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup dan kondisi keluarga pasien. Meskipun fase kritis stroke telah berlalu, banyak pasien yang tetap mengalami kesulitan untuk berjalan, makan, atau bergerak, terutama jika pasien adalah tulang punggung keluarga. Oleh karena itu, rehabilitasi medik menjadi langkah penting untuk membantu pasien mengembalikan fungsi tubuhnya.
BacaMakanan manis dan berlemak memang menggoda selera. Kue, minuman manis, gorengan, makanan bersantan, dan daging berlemak sering menjadi favorit banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kelezatan tersebut, ada risiko kesehatan yang cukup besar jika dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus.
BacaPernahkah kamu mengalami batuk yang tak kunjung sembuh lebih dari 3 minggu, berkeringan di malam hari dan hilangnya nafsu makan? Hati-hati! Bisa jadi itu bukan sekadar batuk biasa, tetapi tanda dari penyakit serius, seperti TBC. Merujuk pada data WHO pada tahun 2023, diperkirakan terdapat sekitar 10,8 juta pengidap TBC di seluruh dunia. Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah pengidap TB terbanyak di Asia Tenggara dengan perkiraan 821.200 kasus pada tahun 2023.
BacaDiabetes melitus atau kencing manis bukan hanya soal gula darah tinggi saja. Penyakit ini juga menyimpan ancaman serius yang jarang disadari banyak orang. Ya, diabetes bisa menyebabkan gangguan penglihatan yang bahkan berujung pada kehilangan penglihatan permanen jika tidak ditangani sejak dini
BacaPernahkah Anda atau orang terdekat mengalami nyeri hebat di perut kanan bawah? Hati-hati, kondisi ini bisa jadi merupakan tanda dari penyakit radang usus buntu, yang dalam istilah medis dikenal sebagai apendisitis
Baca