Di dalam tubuh manusia, sekitar tujuh persen volume tubuhnya diisi oleh darah. Darah merupakan hal yang penting untuk memberi petunjuk apakah Anda sehat atau sakit. Misalnya, sejumlah dua sendok makan darah saja untuk mengetahui bagaimana status kesehatan. Lalu, wajibkah kita cek darah rutin? Kapan waktu idealnya?
Cek darah dilakukan untuk mendapatkan berbagai hasil pemeriksaan kondisi tubuh. Pemeriksaan ini juga akan dilakukan tergantung keluhan pasien dan penilaian dokter.
Jenis cek darah lengkap misalnya. Tes ini bisa memberi informasi seputar kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah, sel darah putih, serta trombosit. Dari sini saja, sudah bisa diketahui apakah seseorang mengalami anemia (kurang darah), infeksi atau kelainan darah lainnya.
Selain itu, bisa dilihat juga apakah seseorang mengalami gangguan metabolik dari hasil pemeriksaan gula darah, kolesterol, atau hormon seperti insulin dan tiroid. Nantinya, hasil cek darah metabolik ini bisa disimpulkan apakah ada diabetes, kolesterol tinggi atau kelainan hormon tertentu pada tubuh Anda.
Fungsi organ penting, seperti ginjal, hati dan jantung pun bisa diketahui melalui cek darah. Namun, pada kasus yang jarang, cek darah dilakukan untuk menentukan diagnosis penyakit autoimun, memantau pengobatan kanker melalui pemeriksaan penanda tumor, dan menilai fungsi reproduksi.
Selain itu, pemeriksaan darah juga untuk mendiagnosis kehamilan serta untuk mengetahui ada tidaknya kelainan genetik tertentu. Itu sebabnya, dokter sering menganjurkan cek darah.
Meski demikian, ada beberapa kondisi yang tidak bisa diketahui dari cek darah. Biasanya ini terkait dengan penyakit-penyakit yang menyerang saraf. Contohnya, stroke, demensia Alzheimer, dan sklerosis multipel.
Begitupun dengan gangguan-gangguan yang berkaitan dengan kesehatan jiwa. Misalnya, depresi, skizofrenia, dan autisme. Penyakit tersebut akan dilakukan dengan cara lain, bukan dengan cek darah.
"Mungkin banyak yg menduga, bahwa pemeriksaaan laboratorium hanya untuk yang sakit. dari pemeriksaan rutin, disini nanti bisa kita nilai apakah kondisi seseorang itu sehat atau tidak." kata dr.Zulfian, Sp.PK Spesialis Patologi Klinik Rumah Sakit Harapan Bunda. Jawabannya, tergantung kebutuhan Anda. Bila tujuannya untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit atau komplikasi lebih lanjut dari penyakit yang sudah ada, silakan lakukan cek darah lengkap atau medical check up secara berkala sesuai anjuran dokter pemeriksa.
Kehilangan nafsu makan pada trimester awal kehamilan sering kali terjadi. Namun, jangan biarkan berlarut-larut, agar tidak membawa dampak buruk bagi kesehatan. Yuk, cari tahu cara mengatasi hilang nafsu makan saat hamil.
BacaMusim hujan yang disertai banjir tidak hanya membawa dampak pada kerusakan lingkungan dan infrastruktur, tetapi juga pada kesehatan kulit. Air banjir yang kotor dan tercampur berbagai bahan berbahaya dapat memicu berbagai masalah kulit, mulai dari yang ringan hingga berat.
BacaPuasa di bulan Ramadan wajib bagi umat muslim. Namun, ada yang harus diperhatikan bagi mereka yang perlu minum obat secara rutin. Rutinitas minum obat tersebut dapat disiasati agar tetap bisa menjalankan puasa dengan tenang.
BacaStroke bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik pasien, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup dan kondisi keluarga pasien. Meskipun fase kritis stroke telah berlalu, banyak pasien yang tetap mengalami kesulitan untuk berjalan, makan, atau bergerak, terutama jika pasien adalah tulang punggung keluarga. Oleh karena itu, rehabilitasi medik menjadi langkah penting untuk membantu pasien mengembalikan fungsi tubuhnya.
Baca“Skrining covid merupakan pemisahan atau penyaringan dengan cara mengidentifikasi orang yg sakit melauli suatu test. Nanti di pisahkan mana yg terinfesi mana yg tidak” Agus Jaelani Kepala Instalasi Labolatorium Rumah Sakit Harapan Bunda.
BacaNyeri lutut adalah keadaan dimana sendi lutut terasa nyeri dan keadaan ini bisa terjadi di segala usia. Sebagian besar nyeri lutut dapat ditangani sendiri di rumah dan tidak memerlukan penanganan khusus.
Baca